Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

CARA GRADING ATAU KATROL NILAI DENGAN SPREADSHEET ATAU EXEL

 

Di atas adalah preview dokumen spreadsheet untuk grading atau katrol nilai dengan objektif.
singkat saja, pasti yang cari sedang bingung kan soalnya.
di bawah ada link download spreadsheetnya.
semoga menjadi amalan berkah.
amiin

Jika bingung unduh,
1. Buka link di atas (pastikan gmailmu terhubung dengan browser
2. Klik > File > Download > (pilih opsi format file unduhan)
3. Selamat mengerjakan nilai


Jika blog ini menjadi salah satu referensi Anda, jangan lupa menyertakan blog ini dalam daftar rujukan Anda untuk menghargai karya orang lain dan pastinya menghindari plagiarisme. Terima kasih.

Apresiasi (Analisis) Novel “Lingkar Tanah Lingkar Air” karya Ahmad Tohari oleh Wildan ‘Jayus’ T.R


“Dan apa yang kudapatkan dari sana amat memukul sanubariku: seuntai tasbih dan seuntai Quran kecil. Kedua benda itu, bahkan dalam suasana dekat mayat pemiliknya, rasanya tak berhenti memancarkan kekudusan. Dan mayat pemiliknya, tak peduli ia seorang militer Republik tergeletak di depan mataku karena peluru yang kutembakkan,” hl. 12

Saya tak sabar segera melampiaskan uneg-uneg ­setelah menyelesaikan novel Lingkar Tanah Lingkar Air (LTLA) karya Ahmad Tohari ini, —memang ku akui sangatlah dibilang terlambat.
Baik, begini, sampai saat ini, LTLA menjadi novel “terdekat perihal keyakinan, khususnya Ketuhanan” di antara novel-novel karya Ahmad Tohari. Penghadapan keyakinan dengan kenyataan ditempa habis-habisan. Dari kalimat pertama hingga tamat. Pikiran tokoh, dialog tokoh, deskripsi keadaan, dialog tokoh lain dibabat habis. Bisa dibilang, pembaca dituntut turut serta menentukan pilihan di tengah kenikmatan membaca.
Dan lagi, jangan berharap juga Kalian akan menikmati novel ini dengan satu alur maju membalik lembar demi lembar. Sangat bisa dimaklumi jika Kalian berkali-kali kembali mencari benang merah alur yang disusun Ahmad Tohari dalam novel ini.
Alur pembentuk novel ini dibilang kompleks, yang jelas maju-mundur. Tetapi, Ahmad Tohari tidak memberikan formula maju-mundurnya yang klise. Bahkan, penanda bahwa itu hanyalah lamunan “Aku” baru disadari pembaca setelah menghabiskan beberapa lembar potongan cerita, berhenti, lalu mencari lagi awal mula lamunan itu dan “meluruskan kembali” garis waktu yang sebenarnya.
Kembali lagi, LTLA sangatlah padat terhadap penghadapan-penghadapan prinsip dengan kenyataan, perihal Tuhan. Berikut potongannya:

“Sejak zaman dulu para ulama hidup damai dengan para santri, dan juga damai di tengah orang-orang abangan. Para ulama dulu bahkan pernah membuat garis pemisah antara keduanya. Memang istilah santri dan abangan bahkan juga wong dul-dulan, sudah lama ada. Namun dalam kehidupan sehari-hari mereka hidup dalam kebersamaan yang tak dapat diragukan.” – hl. 41

“Sembahyang adalah kewajiban yang datang dari Tuhan untuk setiap pribadi yang percaya. Ya. Kewajiban sembahyang tidak datang dari seseorang untuk orang lainnya. Maka secara pribadi aku tak berani mewajibkan apa-apa kepada orang lain karena aku juga tak mungkin memberinya pahala, tak pula berhak menghukumnya.” –hl. 42

Dua potongan di atas disampaikan tokoh Kiai Ngumar. Begitu berat tetapi tetap ringan bahasanya. Ora muluk-muluk. Dan bukan nihil alasan itu ditulis. Mengapa? Sangatlah jelas jika berdasar pada kutipan berikut,

Karya sastra bersumber dari kenyataan hidup yang terdapat di dalam masyarakat. Akan tetapi karya sastra bukanlah hanya mengungkapkan kenyataan-kenyataan objektif itu saja, melainkan juga menampilkan pandangan, tafsiran, dan nilai-nilai kehidupan berdasarkan dayakreasi dan imajinasi pengarangnya, yang kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan. Sastra merupakan wujud gagasan seseorang melalui pandangan terhadap lingkungan sosial yang berada di sekelilingnya dengan menggunakan bahasa yang indah. Wellek dan Warren (dalam Nurgiyantoro, 2013:3)

Melalui tokoh dan deskripsi, yang ku ibaratkan pion-pionnya, pengarang menyampaikan hasil aktualisasi diri terhadap lingkungan sosialnya. Hebatnya adalah, keadaan sosial yang membuat Ahmad Tohari menyampaikan uneg-uneg-nya masih tidak jauh berbeda dengan sekarang. Ya, saya berani berbicara bahwa sastra itu timeless, relevan lebih tepatnya.
Di masa sekarang, menyampaikan pandangan, tafsiran, dan nilai-nilai kehidupan lebih sering disampaikan dengan menggebu-gebu, layaknya orasi di tengah demonstrasi. Yang menurut saya itu mulai digemari banyak orang. Dan, rasanya Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari adalah wujud orasi beliau tentang kerukunan dan toleransi, bahkan lebih dari itu.
Melalui tulisan ini sudah tidaklah mungkin bisa mewakili aktualisasi Ahmad Tohari terhadap lingkungan sosialnya —termasuk kita. Apa yang diresahkan sekarang, sepertinya bisa sangat mungkin ditemukan titik terang pandangan, tafsiran yang sekiranya perlu “digali” lebih dalam lagi.


Malang, 1 April 2019


Rujukan:
ERMA DESY ISMAIL, MOTIVASI DIRI MENYONGSONG MASA DEPAN: KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA DALAM NOVEL INSYA ALLAHAKU BISA SEKOLAH KARYA DUL ABDUL RAHMAN DAN IMPLEMENTASINYA SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA NEGERI 2 SUKOHARJO, (http://eprints.ums.ac.id/68068/11/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf), diakses pada 30 April 2019.

Jika blog ini menjadi salah satu referensi Anda, jangan lupa menyertakan blog ini dalam daftar rujukan Anda untuk menghargai karya orang lain dan pastinya menghindari plagiarisme. Terima kasih.

Apresiasi (Analisis) Novel Aroma Karsa - Dewi Lestari: Sebuah Pencarian Diri Seorang Jati (Secuil Resensi)


Membaca Aroma Karsa seperti bernostalgia dengan Partikel, tetapi di semesta yang lebih kompleks lagi. Terlempar oleh petualangan-petualangan pencarian kebenaran atau malah eksistensi diri. Aroma Karsa dihadirkan melalui dua versi, cetak dan digital. Saya tergolong pembaca versi cetak. Di akhir Aroma Karsa, Dee menjelaskan bahwa bisa membaca kisah belakang layar buku ini melalui deelestari.com dengan judul “Aroma Karsa: Catatan Penutup”. Kubukalah itu.
Dalam catatan itu, Dee menjelaskan beberapa poin. Pertama, tentang perjalanan riset dan proses kreatifnya. Kedua, perbedaan versi cetak dan digital. Ketiga, sinergi dua format: Digital & Cetak, Ke-empat, sequel or no sequel? Dan di akhir catatan, Dee melampirkan daftar revisi pertama.
Ada perbedaan antara versi cetak dan digital, sebagai pembaca tentunya, Aroma Karsa memberikan pengalaman baca yang baru sekaligus memberikan pengalaman baru di perindustrian buku. Ya, Dee memaparkan bahwa versi cetak dan digital bukanlah kompetitor, melainkan komplementer. Relasi yang tepat bagi keduanya adalah “dan” bukan “atau”.
Terlepas dari itu, tentunya pembaca memiliki segmen sendiri, ada yang menikmati dua versi sekaligus, dan mungkin ada yang menikmati satu versi saja, cetak atau digital. Bagi yang menikmati versi cetak (kususnya cetakan pertama), disarankan untuk mengunduh daftar revisi pertama di akhir “Aroma Karsa: Catatan Penutup”.
Dee dirasa bertransformasi, tulisannya kini lebih lugas, tetapi tetap indah. Meskipun ingin menghadirkan dunia baru bagi pembaca melalui sudut pandang Jati dan Suma, Dee tidak sampai repot-repot menggunakan banyak terminologi seperti di Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh.
Saya sangat menikmati petualangan-petualangan di semesta serba baru ini. Saya meyakini usaha Dee sangatlah keras mengingat bahwa yang dideskripsikan adalah sebuah bau. Dan Dee sukses membawa keseruan sekaligus membuka cakrawala perbauan.

Dee memang bertransformasi, namun Dee tetaplah Dee.
Dee yang suka menghadirkan perjalanan pencarian diri.
Sebuah intuisi alami.
Mendorong sampai batas tak kasat mata, imajinasi manusia itu sendiri.

Jika blog ini menjadi salah satu referensi Anda, jangan lupa menyertakan blog ini dalam daftar rujukan Anda untuk menghargai karya orang lain dan pastinya menghindari plagiarisme. Terima kasih.

DINAMIKA DANGDUT KINI: Korelasi Via Vallen "Sayang" dengan Daging Kambing (Sebuah Kajian Ngalor-ngidul)

Bertepatan dengan hajat Qurban, maka kajian ngalor-ngidul kali ini sangat tepat sekali membahas lagu dangdut berbumbu rap.

Saya sudah menyelidiki asal usul rap yang muncul di lagu produk asli Indonesia ini. Pastinya, para pembaca ini sangat sering sekali mendengar lagu dangdut, bisa dangdut koplo jawa, dangdut banyuwangian, mana pun asal dangdut ber-Rap, kan?
Apalagi kalau hampir tiap hari menggunakan angkutan umum, elf/bison, bis, angkot, nah kalau ojek, pesawat, dan kereta mungkin tidak.

Diusut, setahun terakhir ini bermunculan dangdut berbumbu rap dengan bahasa lokal (bergantung dangdut mana?), Karena apa? Karena bertepatan dengan hari raya kambing.
Detak jantung sang pembuat lagu memiliki perbedaan di tengah pembuatan sebuah lagu. Pencipta lagu mengonsumsi olahan kambing, ---sate, gule, sop, rawon dari daging kambing--- ketika di tengah proses pembuatan lagu-lagu. Dan karena itu terdapat perbedaan bpm di sebuah lagu.

Lagu dangdut yang saya usut yaitu, "Sayang" yang dipopulerkan Via Vallen.
Dari awal sampai bridge "Meh sambat kalih sinten..." bertempo 70 bpm, selepas bridge menjadi 140 bpm. Itu tandanya ada dinamika di lagu dangdut itu. Ya, musik pun mengikuti zaman dengan caranya sendiri.

NB:
Tempo. Tempo menandakan seberapa cepat lagu dimainkan. Istilah modern untuk tempo adalah BPM atau Beats per Minute, yaitu berapa banyak ketukan yang terjadi dalam waktu 60 detik. Dalam pengetahuan musik klasik, tempo ditandai dengan istilah-istilah bahasa Italia seperti Adagio, Allegretto, dan Presto, yang masing-masing memiliki kecepatan tertentu. Namun, untuk produksi musik modern menggunakan piranti lunak, lebih mudah menentukan kecepatan lagu menggunakan BPM. (http://mahirmenulislagu.com/beat-bar-time-signature-tempo/)

LANJUT.
Rap muncul di bagian lagu yang ber-70 bpm, lalu rap tidak ada ketika beat diduakalilipatkan (140 bpm).

Penonton Via Vallen pun bisa berjoget ala anak reggae (karena musik reggae bermain di 60-90 bpm) dan berjoget ala anak diskotik (karena musik-musik sejenis yang diputar disana 130-145 bpm).

Kenapa lagu "Sayang" ini berhasil membuat penonton berjingkrak-jingkrak? Kalau kamu pernah menonton film "We Are Your Friends" yang rilis tahun 2015, kalian akan paham. Di bagian sebuah film dijelaskan bahwa jika ingin berhasil membuat orang "terhipnotis" oleh lagu, mulailah dari beat yang sama dengan denyut jantung lalu digiring ke beat yang cepat secara bertahap, maka penonton/pendengar secara otomatis akan jingkrak-jingkrak pada akhirnya. Dan itu diaplikasikan oleh pembuat lagu atau musik komposer "Sayang".

Olahan kambing berpengaruh besar atas kedinamikaan lagu dangdut di Indonesia. Dari kajian ngalor-ngidul kali ini, menjadi tahu bahwa tidak untuk kesehatan saja manfaat dari kandungan daging kambing, bahkan sampai ke perihal musik.

Sekian, ujung kalimat, berdayakan kambing, sapi, unta, kebo, beserta hewan ternak lainnya dan selamat Hari Raya Idul Adha.

MALANG - 2017


Jika blog ini menjadi salah satu referensi Anda, jangan lupa menyertakan blog ini dalam daftar rujukan Anda untuk menghargai karya orang lain dan pastinya menghindari plagiarisme. Terima kasih.

(Artikel Hari Buruh) MAY DAY: Jalan Panjang Kaum Buruh Indonesia (Sebuah Kajian Ngalor-ngidul)




Jangan serukan: “Bersatulah Buruh Sedunia!”



SEJARAH 1 MEI DI INDONESIA

Pengubahan tanggal hitam 1 Mei menjadi tanggal merah bukan perkara mudah dan singkat. Bolehlah sembari Anda menikmati hari libur, patutlah kita mengetahui perjalanan 1 Mei dalam kalender Indonesia. Berikut sejarah singkat mulai dari tahun 1966-disahkannya Hari Buruh Internasional menjadi Hari Libur Nasional.

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, May Day diidentikkan dengan ideologi komunisme yang saat itu sangat dilarang keberadaannya. Karena itu, penetapan hari buruh internasional pada 1 Mei pada masa Orde Baru sempat ditiadakan.

Langkah awal pemerintahan Soeharto untuk menghilangkan perayaan May Day dilakukan dengan mengganti nama Kementerian Perburuhan pada Kabinet Dwikora menjadi Departemen Tenaga Kerja. Presiden Soeharto menunjuk Awaloedin Djamin menjadi Menteri Tenaga Kerja pertama era Orde Baru. Ia dipilih karena latar belakangnya sebagai perwira polisi. Menurut Soeharto, Awaloedin merupakan sosok yang tepat untuk mengisi jabatan itu karena dinilai mampu menghadapi kaum buruh.

"Bulan Mei 1966, Awaludin mengusahakan agar 1 Mei 1966 tidak dirayakan lagi karena dianggap berkonotasi kiri. Namun usaha itu belum berhasil karena serikat buruh masih kuat. Baru sejak 1 Mei 1967, peringatan Hari Buruh dihapus," ucap Asvi Warman Adam, dalam kolom Opini Kompas, 8 Oktober 2003.

"Indonesia pernah memiliki serikat buruh yang berorientasi kelas, khususnya pada era Demokrasi Terpimpin melalui Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Ketika Orde Baru berkuasa, serikat buruh berorientasi kelas ini dibasmi secara brutal, yang melahirkan trauma sejarah panjang hingga sekarang," kata Surya Tjandra, dikutip dari kolom opini Kompas, 1 mei 2012.

Karena serikat buruh saat itu masih kuat maka Peringatan hari buruh Pada 1  Mei 1966  masih diadakan oleh Awaloedin setelah mendengar pertimbangan Soeharto.

“Kalau tidak ada peringatan, pasti terjadi geger yang enggak perlu. Saya putuskan, harus diperingati. Maka tanggal 1 Mei 1966, pemerintah Orde Baru ikut melakukan upacara tersebut. Tahun berikutnya langsung saya hapuskan. Kita cari Hari Buruh Nasional saja, tak perlu yang internasional, nanti malah harus nyanyi lagu Internasionale segala,” ucap Menteri Tenaga Kerja pertama rezim Soeharto, Komisaris Besar Polisi Awaloedin Djamin, seperti dilansir Kompas, 7 Mei 2006.

Peringatan diadakan cukup meriah dengan di isi acara pawai kendaraan melewati istana. Seusai peringatan 1 Mei itu, Awaloedin melemparkan gagasan bahwa tanggal itu tidak cocok untuk peringatan buruh nasional. Selain itu, peringatan May Day selama ini telah dimanfaatkan oleh SOBSI/PKI.


"Sementara itu, secara diam-diam saya mempersiapkan ketentuan pemerintah untuk mencabut tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh," demikian pengakuan Awaloedin Djamin yang kemudian juga pernah menjadi Kepala Polri itu, seperti dikutip dari tulisan Asvi Warman Adam dalam Kompas (Kolom Opini) 'Hari Buruh Seyogianya Libur Nasional', 1 mei 2004.

Perkembangannya kemudian, serikat buruh digiring untuk berorientasi ekonomis. Hal itu dimulai dengan penyatuan serikat buruh yang tersisa dari huru-hara 1965 ke dalam Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI) yang kemudian menjadi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI).

"Penataan hari buruh nasional kemudian dilakukan oleh Menteri Tenaga Kerja pada era Soeharto sebagai peringatan empat tahun berdirinya Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FSBI) pada tahun 1973," Kompas, 20 Februari 1986.


FSBI adalah wadah bersatunya organisasi-organisasi buruh di seluruh Indonesia yang sebelumnya terpencar-pencar dalam berbagai organisasi. FSBI pada masa Orde Baru sangat dekat dengan pemerintah, bahkan terkesan sebagai birokrat, sehingga nasib buruh pun masih tidak banyak berubah. Bahkan, banyak pula dari kalangan buruh yang tidak tahu keberadaan organisasi ini. Selain itu, FSBI juga belum sepenuhnya independen karena masih didanai pemerintah. Pada 1986, muncul ide untuk menarik iuran sendiri dari para anggotanya.

Selama masa pemerintahan Orde Baru, buruh masih melakukan upaya pemogokan kerja, meski tak ada aksi unjuk rasa besar yang berarti seperti saat ini. Pada masa itu pula, tuntutan buruh akan upah layak, cuti haid, hingga upah lembur mulai digaungkan.

Komisi Upah yang saat itu dibentuk unutuk mengakomodasi kepentingan buruh juga mulai bersuara adanya proses penetapan upah yang tidak adil bagi buruh. Teten Masduki yang ketika itu menjadi juru bicara di Komisi Upah mengungkapkan bahwa buruh di Indonesia tak pernah diikut sertakan dalam menentukan upah yang seharusnya mereka terima.

Badan pengupahan yang ada, tidak pernah memihak pada kepentingan buruh karena serikat buruh resmi yang diakui pemerintah lemah dan dilemahkan.

"Pemerintah selama ini cenderung memperlakukan buruh sebagai bahan bakar untuk memacu industrialisasi dan mendorong ekspor, hingga untuk hal-hal yang menyentuh kebijakan mereka tak pernah diajak bicara," teten dalam Kompas, 13 Januari 1996.



ERA REFORMASI


Aksi unjuk rasa ribuah buruh dan mahasiswa kembali dilakukan pada 1 mei 2000. Ketika itu, para buruh menuntut agar 1 Mei kembali dijadikan hari buruh dan hari libur nasional. Unjuk rasa yang disertai dengan mogok kerja besar-besaran di sejumlah wilayah di Indonesia itu membuat gerah para pengusaha. Pasalnya, aksi mogok berlangsung hingga satu minggu.

PT Sony Indonesia mengancam akan hengkang ke Malaysia apabila para pekerjanya tidak kembali bekerja. Kemudian ancaman ini membuat khawatir pemerintah, karena jika PT Sony Indonesia saja berani hengkang maka perusahan elektonik lainnya diprediksi akan mengambil langkah serupa. Di sisi lain, buruh bersikeras meminta kepada pemerintah agar menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional. Sejumlah pegawai terancam diputus kontrak oleh perusahaan lantaran ikut dalam aksi ini.


"Pada tahun 2002, Menteri Tenaga Kerja Jacob Nuwa Wea mengatakan, 1 Mei tak akan dijadikan hari libur nasional. Pasalnya, Pemerintah telah menetapkan 15 hari libur nasional, sehingga terlalu berlebihan jika hari itu dijadikan hari libur," dikutip dari Kompas, 24 April 2002. Tidak ada perkembangan apapun soal tuntutan buruh agar 1 Mei dijadikan hari buruh dan hari libur nasional selama masa pemerintahan Gus Dur atau pun Megawati.

Memasuki masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), belum tampak tanda-tanda dikabulkannya tuntutan para buruh. Namun, pada masa ini tuntutan yang dilancarkan tidak lagi soal libur nasional, tetapi juga soal revisi UU Ketenagakerjaan hingga jaminan sosial yang kemudian membuahkan BPJS Kesehatan hingga BPJS Ketenegakerjaan.



Era SBY

Saat masih menjabat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku tidak sepakat dengan rencana buruh untuk melakukan aksi mogok nasional. Menurutnya, hal itu hanya akan merugikan perusahanan dan juga pekerja. Meskipun saat itu ia tak melarang adanya aksi, namun SBY meminta agar mogok nasional dan aksi demo besar-besaran dipikirkan kembali.

"Saya mendapat informasi, kalau benar, akan ada rencana mogok nasional oleh para pekerja. Unjuk rasa, protes itu hak. Mogok bisa terjadi dalam kehidupan demokrasi. Yang saya harapkan berpikirlah sekali lagi apakah mogok nasional itu membikin baik keadaan atau memperburuk keadaan," ujar Presiden dalam sambutan peresmian perluasan fasilitas produksi Grup Tempo di Cikarang, Jawa Barat, Selasa (18/4) seperti dikutip dari Kompas, 19 April 2006.

Selama memimpin, SBY punya kebiasaan melakukan lawatan ke luar kota atau pun keluar negeri di saat Jakarta dikepung demo besar-besaran pada 1 Mei.

Pada tahun 2006, satu pekan sebelum demo buruh, SBY memutuskan menyerahkan tugasnya sementara kepada Wapres JK karena dirinya melakukan lawatan ke negara-negara di Timur Tengah selama 10 hari. Pada tahun itu pula, Menkokesra Aburizal Bakrie menyatakan pemerintah tak akan menetapkan hari buruh sebagai hari libur nasional pada tahun ini atau pun tahun  2007 dengan alasan apa pun.

Sikap pemerintah tidak berubah hingga akhirnya pada tahun 2013 SBY resmi menandatangani Peraturan Presiden yang menetapkan bahwa 1 Mei sebagai hari libur nasional bersamaan dengan perayaan hari buruh yang doperingati seluruh penduduk dunia.

"Hari ini, saya tetapkan 1 Mei sebagai Hari Libur Nasional dan dituangkan dalam Peraturan Presiden," kicau Presiden melalui akun Twitter resminya, @SBYudhoyono, Senin (29 Juli 2013) malam.

(Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2016/05/01/08070931/Sejarah.Panjang.Hari.Buruh.Sedunia.dan.di.Indonesia?page=all)(tanpa suntingan)



AWAL PERJUANGAN BURUH DI INDONESIA

Perjalanan 1 Mei menjadi Hari Libur Nasional masih kalah panjang dengan perjalanan buruh sendiri dalam sejarah Indonesia. Permasalahan buruh sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Bahkan pergerakan Nasional (entah dapat disebut Nasional atau belum) pra merdeka lebih banyak diilhami oleh nasib kaum buruh. Perlu diingat, pergerakan ini diilhami oleh kesengsaraan nasib buruh masa itu. Gambar 2.1 merupakan potret masa itu (1910-an/ penulis).

Permasalahan-permasalahan yang ada (saat itu) juga memunculkan organisasi-organisasi yang memperjuangkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Salah satunya Sarekat Islam (SI) pada 1912 yang didirikan oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau yang dikenal di buku sejarah sebagai H.O.S Tjokroaminoto.


(Gambar 2.1 Di Bawah Lentera Merah - SHG)



Permasalahan buruh pada era sekarang memang sudah diatur sedemikian rupa demi keberlangsungan hidup para buruh. Tetapi, pada kenyataannya tidak semua tempat para buruh bekerja berlandaskan Undang-undang (UU) yang mengatur keberlangsungan hidup mereka.

“Dalam bidang perburuhan pun Pemerintah berpihak kepada kaum majikan.”- SHG (Lentera Merah: 21). Untuk menuntut hak-hak mereka, kaum buruh melakukan pemogokan.


Pemogokan kerja menjadi pilihan terakhir ketika kaum buruh tidak mendapatkan hak mereka untuk didengar. Tidak mudah melakukan pemogokan pada masa itu. Dengan latar belakang seadanya dan keterbatasan daya, pada akhirnya kaum buruh berani melakukan pemogokan. Dan pemogokan-pemogokan kaum buruh di Indonesia dipengaruhi oleh revolusi Rusia tahun 1917 (Gambar 2.2). Peristiwa Rusia itu kemudian dituliskan melalui sebuah artikel yang kemudian menginspirasi kaum buruh di Indonesia waktu itu.



(Gambar 2.2 Di Bawah Lentera Merah - SHG)


Setelah melakukan pemogokan, seperti biasa, Pemerintah saat itu menjanjikan kesejahteraan dan pengabulan atas permintaan kaum buruh.

Jalan keluar bagi kaum buruh pada masa itu sampai sekarang pada dasarnya masih sama, yaitu pendidikan. Tulisan ini (Gambar 2.3) seperti tulisan yang menembus mesin waktu atau memang PR yang tak kunjung selesai.

 



(Gambar 2.3 Di Bawah Lentera Merah - SHG)



            Jika kata pemerintah saat itu mengatakan kepada kaum buruh untuk bersabar, bisa dikatakan dan dipastikan bahwa kaum buruh Indonesia terlampau sabar. Pasalnya, hingga sekarang memang persoalan kesenjangan kesejahteraan yang dihadapi kaum buruh belum selesai. Sejak itu, para kaum cendekia mulai memikirkan bahwa pendidikan menjadi solusi atas nasib kaum buruh. Organisasi-organisasi mulai dibentuk untuk memperjuangkan nasib kaum buruh.



PERJUANGAN BURUH ERA KINI DI INDONESIA

Tidak sedikit orang berkecenderungan skeptis bahwa tulisan dapat menghasut hingga memecah belah persatuan. Tetapi apakah mereka sadar bahwa kesenjangan sosial, kesenjangan ekonomi, kesenjangan kemapanan, yang itu berarti kesenjangan kesejahteraan yang paling berpotensi memecahbelah persatuan?

Apakah mereka, buruh, sudah sejahtera? Tentu akan beragam jawaban atas pertanyaan itu. Melalui tulisan ini aku tidak akan menyerukan, “Bersatulah Buruh se-dunia!” bisa-bisa aku diciduk pihak berwajib karena dianggap memiliki haluan lain dalam menjaga persatuan Bangsa.

Organisasi-organisasi yang memperjuangkan kaum buruh mengalami tantangan-tantangan. Mulai dari organisasi itu sendiri hingga dari luar organisasi. Seperti yang tertulis di sejarah 1 Mei di Indonesia pasca 1966. Organisasi buruh dipandang sebagai organisasi berhaluan lain di Indonesia, akibatnya pembubaran Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) —terkait dengan pemberontakan Madiun— sampai dihapuskannya Hari Buruh Internasional di kalender Nasional era Demokrasi Terpimpin kala itu.

Bagaimana dengan pasca reformasi? Ya, Hari Buruh Internasional ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional menjadi penghibur bagi mereka kaum buruh. Tetapi, hiburan itu menjadi hiburan kecil bagi mereka. Di saat masyarakat lain piknik dengan keluarga tercinta dan menikmati long weekend, kaum buruh tetap memperjuangkan nasib mereka di hadapan pemerintah.

Seperti yang diberitakan,

KSPI menegaskan dalam peringatan mayday besok ada sekitar 500.000 buruh yang akan aksi turun ke jalan. "Sebanyak setengah juta buruh pada tanggal 1 Mei nanti akan mengadakan aksi yang terbagi di 32 provinsi di Indonesia," pungkas Ketua KSPI, Iqbal Said dalam jumpa pers di Hotel Mega Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat pada Jumat (28/4).

(Sumber: https://www.merdeka.com/peristiwa/may-day-500-ribu-buruh-akan-demo-serentak-di-seluruh-indonesia.html)

Masih dari sumber yang sama, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) tahun ini menuntut beberapa hal,

Dalam HOSJATUM tersebut, KSPI menuntut agar pemerintah menghapus sistem outsourcing dan pemagangan. Sebab sistem tersebut hanya menaikkan angka pengangguran di Indonesia.

Iqbal menambahkan agar pemerintah memberikan jaminan sosial dan yang terakhir adalah mencabut PP 78 Tahun 2015, menolak upah murah terhadap buruh.

Beralih ke organisasi lain,

Menyambut peringatan hari buruh "MayDay" pada hari Senin 1 Mei 2017, ratusan buruh yang tergabung dalam Federasi Serikat Buruh Karya Utama (FSBKU) melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Kamis (27/4/2017)

(Sumber: http://www.tribunnews.com/metropolitan/2017/04/28/demo-sambut-mayday)

Federasi Serikat Buruh Karya Utama (FSBKU) menuntut dicabutnya PP 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan serta menolak revisi UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang dinilai mengebiri hak-hak buruh serta menolak privatisasi aset negara.

Di atas merupakan dua dari sekian perjuangan buruh yang disuarakan melalui sekian organisasi buruh (ABM - Aliansi Buruh Menggugat, ASPEK Indonesia - Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia, FPBJ - Federasi Perjuangan Buruh Jabodetabek, SPSI - Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, SPN - Serikat Pekerja Nasional, FSBI - Federasi Serikat Buruh Independen, GASBIINDO - Gabungan Serikat-serikat Buruh Islam Indonesia, KASBI - Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia, FSPMI - Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia, FSP KEP - Federasi Serikat Pekerja Kimia Energi Pertambangan dan Umum, dll). (Sumber: https://www.kaskus.co.id/thread/5361e471108b468e498b45cd/daftar-organisasi-buruh-indonesia/)

Pasca reformasi, pemerintah secara perlahan mengatur UU tentang ketenagakerjaan. Peraturan itu juga mengatur Organisasi Serikat Pekerja (dll). Seperti pasal 102 UU Tenaga Kerja tahun 2003, “dalam melaksanakan hubungan industrial, pekerja dan serikat pekerja mempunyai fungsi menjalankan pekerjaan sesuai dengan kewajibannya, menjaga ketertiban demi kelangsungan produksi, menyalurkan aspirasi secara demokratis, mengembangkan keterampilan, dan keahliannya serta ikut memajukan perusahaan dan memperjuangkan kesejahteraan anggota beserta keluarganya.”

Lalu Serikat pekerja/serikat buruh, federasi dan konfederasi serikat pekerja/serikat buruh yang telah mempunyai nomor bukti pencatatan berhak :


  1. Melakukan perundingan Perjanjian Kerja Bersama dengan pihak manajemen.
  2. Mewakili pekerja dalam menyelesaikan perselisihan hubungan industrial di dewan dan lembaga perburuhan.
  3. Membentuk lembaga atau melakukan kegiatan yang berkaitan dengan usaha peningkatan kesejahteraan pekerja/buruh.
  4. Mengadakan kegiatan perburuhan selama tidak bertentangan dengan ketentuan hukum perundang-undangan yang berlaku.

Dilihat dari hak yang dituntut kaum buruh, sebenarnya masih berputar pada persoalan yang sama, kesejahteraan. Sekarang pemerintah mengatur sistem kontrak kerja. Dengan menggunakan sistem kontrak, dalam arti buruh mendapat kontrak kerja maksimal dua tahun pada kaum majikan, jika kaum majikan ingin menggunakan jasa mereka, maka kaum majikan wajib mengangkat buruh menjadi pegawai tetap.

Dapat dibayangkan bahwa setiap buruh akan putar otak selepas setahun atau dua tahun bekerja. Kontrak selesai, mereka mencari pekerjaan lagi, dan tentunya menjadi buruh juga. Bagi kaum buruh muda, mereka memanfatkan masa kerja untuk menikah. Jika kontrak selesai? Bisa dipastikan mereka akan mencari pekerjaan lain lagi.

Mereka yang turun ke jalan menyerukan hak mereka, bukan menyerukan ideologi. Mereka yang turun ke jalan, yang tergabung dalam serikat pekerja/serikat buruh, memperjuangkan kesejahteraan, bukan kepentingan lain seperti era 1960-an. Kaum majikan terlampau mapan untuk digulingkan dan kerumitan persoalan nasib sudah menyibukkan kaum buruh sendiri. Mereka hanya memperjuangkan dapur mereka agar tetap mengebul.



JALAN KELUAR

Kurang relevan jika harus menyerukan kepada kaum buruh. Pada era sekarang lebih cocok menyerukan pada generasi muda untuk bersatu. Bersama-sama membangun kekuatan untuk mempersiapkan diri pada era yang akan lebih rumit.

Kolonialisme, imperalisme, kapitalisme sudah memiliki kemasan yang berbeda. Penindasan juga sudah sangat berbeda. Jika penindasan dulu dengan kekerasan dan kesengsaraan, maka bisa dikatakan penindasan kali ini justru menghibur dan menyenangkan. Belum lagi—seperti tulisan sebelum ini yang saya kritisi— media era sekarang.

Para buruh mungkin akan selalu ada sebagai segmen yang berhubungan dengan kesenjangan kesejahteraan, tetapi pertanyaannya,  “Apakah generasi muda adalah segmen baru yang dijajah dengan sesuatu yang menghibur dan menyenangkan?” Semoga saja tidak.

Untuk mengakhiri kajian ngalor-ngidul kali ini, perkenankanlah sebentar,

“Untuk para buruh, nikmatilah hidup Kalian bagi yang bisa menikmati. Bagi yang belum, paling tidak persiapkan anak Kalian. Atau bagi buruh yang belum punya anak, mulailah putar otak.”

“Harus disadari bahwa kelas sosial ini (majikan dan buruh) sudah ada atau sengaja dibentuk jauh sebelum 1 Mei menjadi Hari Libur Nasional. Bagi Kalian yang berencana menjadi buruh, berpikirlah lebih jeli lagi. Jika Kalian mencari majikan (perusahaan, pabrik, pertambangan, pertanian, dst) yang menjamin kesejahteraan Kalian, perhatikan daya (kemampuan) Kalian atas keinginan itu. Jika tidak yakin, maka asah kemampuan hingga kesejahteraan datang dengan sendirinya.”

Sudah bukan zamannya buruh dikaitkan dengan pergerakan haluan lain, sekarang  zamannya buruh diperhatikan. Memang tidak bisa menghapuskan kelas majikan dan buruh, menjaminnya dengan Undang-undang pun juga belum cukup. Namun, pilihan paling bijak untuk itu semua adalah mempersiapkan kaum buruh Indonesia menjadi buruh yang dibutuhkan kaum majikan. Dengan itu kaum buruh akan memiliki peran atas kesejahteraannya sendiri.

Namun, menjadikan pendidikan sebagai jalan keluar tampaknya sama saja menghadapkan persoalan kepada persoalan baru. Tampaknya Buruh dan Pendidikan memang sudah menjadi dua hal yang berkaitan, Hari Buruh diperingati pada 1 Mei dan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei. Saya tidak bisa menjawab atas itu. Yang pasti, perjuangan buruh tidak serta merta perjuangan kaum buruh sendiri. Dari semua hal yang berusaha dipaparkan, paling tidak sudah diketahui bersama bahwa ada jalan keluar persoalan kesenjangan kesejahteraan kaum buruh. Jalan keluar yang sebenarnya sudah ditemukan jauh sebelum Indonesia merdeka.





Jayus

2017



Jika blog ini menjadi salah satu referensi Anda, jangan lupa menyertakan blog ini dalam daftar rujukan Anda untuk menghargai karya orang lain dan pastinya menghindari plagiarisme. Terima kasih.

ARTIKEL: "Hakikat Manusia dan Pengembangannya"



          Sasaran pendidikan adalah manusia. Terbentuk dari kumpulan terpadu (integrated) atau yang disebut hakikat manusia adalah ciri khas manusia yang menjadi pembeda dari hewan. Disebut sifat hakikat manusia karena secara hakiki sifat tersebut hanya dimiliki oleh manusia dan tidak terdapat pada hewan. Kemudian, mengapa manusia itu perludimiliki oleh pendidik adalah karena adanya perkembangan sains dan teknologi yang sangat pesat. Oleh karena itu, adalah sangat strategis jika pembahasan tentang hakikat manusia ditempatkan pada bagian pertama dari seluruh pengkajian tentang pendidikan, dengan harapan menjadi titik tolak bagi paparan selanjutnya.
A.  Sifat Hakikat Manusia
Landasan dan tujuan pendidikan bersifat filosofis normatif. Bersifat filosofis karena untuk mendapatkan landasan yang kukuh diperlukan adanya kajian yang bersifat mendasar, sistematis, dan universal tentang ciri hakiki manusia. Bersifat normatif karena pendidikan mempunyai tugas untuk menumbuhkembangkan sifat hakikat manusia tersebut sebagai sesuatu yang bernilai luhur, dan hal itu menjadi keharusan.
1.    Pengertian Sifat Hakikat Manusia
Sifat hakikat manusia merupakan ciri-ciri yang karakteristik, yang secara prinsipal membedakan manusia dengan hewan, walaupun antara manusia dengan hewan banyak kemiripan terutama secara biologis. Socrates meyebut bahwa manusia adalah Zoon Politico (hewan yang bermasyarakat); Max Schaller; menyebutkan: Das Krantetier (hewan yang selalu bermasalah); demikian pula Charles Darwin dengan teori evolusinya telah membuktikan bahwa manusia berasal dari kera (primata) tetapi dia gagal yang disebutnya dengan The Missing Link.
2.    Wujud Sifat Hakikat Manusia
Wujud sifat hakikat manusia (yang tidak dimiliki oleh hewan) yang dikemukakan oleh paham eksistensialisme, dengan maksud menjadi masukan dalam membenahi konsep pendidikan, yaitu:
a.    Kemampuan Menyadari Diri
Kaum Rasionalis menyatakan perbedaan manusia dengan hewan terletak pada kemampuan menyadari diri yang dimiliki oleh manusia, maka manusia menyadari bahwa dirinya (akunya) memiliki ciri khas atau karakteristik diri..
b.    Kemampuan Bereksistensi
Manusia tidak terbelenggu oleh tempat atau ruang, tetapi manusia dapat menembus dua hal itu. Kemampuan menempatkan diri dan menerobos inilah yang disebut kemampuan bereksistensi. Adanya manusia bukan “ber-ada” seperti hewan di dalam kandang dan tumbuh-tumbuhan di dalam kebun, melainkan “meng-ada” di muka bumi (Drijarkara, 1962:61-63).
c.    Kata Hati (Conscience of Man)
Conscience ialah “pengertian yang ikut serta” atau “pengertian yang mengikut perbuatan”. Kata hati adalah kemampuan membuat keputusan tentang yang baik/benar dan yang buruk/salah bagi manusia sebagai manusia. Kata hati atau Conscience of Man sering disebut dengan hati nurani, lubuk hati, suara hati, pelita hati, dst.
d.   Moral
Moral sering disebut sebagai etika. Artinya seseorang yang telah memiliki kata hati yang tajam belum otomatis perbuatannya merupakan realisasi dari kata hatinya itu. Seseorang dikatakan bermoral tinggi saat ia dapat meyatukan diri dengan nilai-nilai tinggi yang perbuatannya itu merupakan realisasi dari nilai-nilai tinggi itu.
e.    Tanggung Jawab
Tanggung jawab sering dikatakan sebuah keberanian untuk menentukan bahwa sesuatu perbuatan sesuai dengan tuntutan kodrat manusia, dan bahwa hanya karena itu perbuatan tersebut dilakukan, sehingga sanksi apapun yang dituntutkan (oleh kata hati, masyarakat, dan norma-norma agama), diterima dengan penuh kesadaran dan kerelaan.
f.     Rasa Kebebasan
Merdeka adalah rasa bebas (tidak merasa terikat oleh sesuatu), tetapi sesuai dengan tuntutan kodrat manusia. Implikasi pedagogisnya adalah sama dengan pendidikan moral yang mengusahakan agar peserta didik dibiasakan menginternalisasikan nilai-nilai, aturan-aturan ke dalam dirinya, sehingga dirasakan sebagai miliknya.
g.    Kewajiban dan Hak
Kewajiban dan hak merupakan indikator bahwa manusia sebagai makhluk sosial. Dalam kehidupan hak dimaknai sebagai sesuatu yang menyenangkan, sedangkan kewajiban dimaknai sebagai beban. Tetapi menurut (Drijar Kara, 1978) kewajiban bukan beban, tetapi keniscayaan sebagai manusia, mengenal berarti mengingkari kemanusiaan, sebaliknya melaksanakan kewajiban berarti kebaikan.
h.    Kemampuan Menghayati Kebahagiaan
Kebahagiaan istilah yang sulit dijabarkan dengan kata-kata, tetapi tidak sulit dirasakan setiap orang pasti pernah mengalami rasa bahagia (senang, gembira, dan lain sebagainya). Kebahagiaan dapat dicapai apabila manusia dapat meningkatkan kualitas hubungannya sebagai makhluk dengan dirinya sendiri (memahami kelebihan dan kekurangannya); dengan alam (untuk eksploitasi dan dilestarikan); dan terhadap Tuhan Maha Pencipta. Peranan yang penting sebagai wahana untuk mengantar anak mencapai kebahagiaan.
B.  Dimensi-Dimensi Hakikat Manusia serta Potensi, Keunikan, dan Dinamikanya
Ada 4 macam dimensi hakikat manusia, yaitu:
1.    Dimensi Keindividualan
Pendapat beberapa ahli tentang individu:
a.    Lysen mengertikan individu sebagai “orang seorang”, sesuatu yang merupakan kebutuhan yang tidak dapat dibagi-bagi (in divide)
b.    Langeveld M.J (1995), Mengertikan tidak ada individu yang identik dimuka bumi walaupun berasal dari satu sel. Setiap orang memiliki individualitas.
Kecenderungan perbedaan ini sudah berkembang sejak usia dini. Selanjutnya berkembang setiap anak memiliki pilihan, sikap kemampuan, bakat minat yang berbeda. Adanya individualitas menyebabkan setiap orang memiliki kehendak, perasaan , cita-cita,semangat,dan daya tahan yang berbeda.
2.    Dimensi Kesosialan
Dimensi kesosialan pada manusia tampak jelas pada dorongan untuk bergaul. Manusia tidak dapat hidup seorang diri (terisolir). M.J Langeveld menyatakan bahwa setiap bayi yang lahir dikaruniai potensi sosialitas. Manusia hanya akan menjadi manusia jika berada diantara manusia. Individualitas manusia terbentuk melalui proses interaksi (pendidikan).
3.    Dimensi Kesusilaan
Pengertian susila mengalami perkembangan hingga memiliki arti kebaikan lebih. Pada hakikatnya manusia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan susila, serta melaksanakannya sehingga dikatakan manusia itu adalah makhluk susila. Kesusilaan berarti menanamkan kesadaran dan kesediaan melakukan kewajiban di samping menerima hak pada peserta didik.
4.    Dimensi keberagamaan
Pada hakikatnya manusia adalah makhluk religius. Beragama merupakan kebutuhan manusia karena manusia adalah makhluk yang lemah sehingga memerlukan tempat untuk bertopang. Manusia memerlukan agama demi keselamatan hidupnya. Dapat dikatakan bahwa agama menjadi sandaran vertikal manusia. Penanaman sikap dan kebiasaan beragama dimulai sedini mungkin, yang melaksanakan di keluarga dan dilanjutkan melalui pemberian agama di sekolah.
C.  Pengembangan Dimensi Hakikat Manusia
Sasaran pendidikan adalah manusia sehingga pengembangan dimensi hakikat manusia menjadi tugas pendidikan. Selain itu, pendidikan merupakan upaya sadar untuk mengaktualisasikan potensi dimensi-dimensi secara total dan maksimal. Sehubungan dengan itu ada dua hal yang bisa terjadi, yaitu pengembangan yang utuh dan tidak utuh.
Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang sanggup menghantar subjek didik menjadi dirinya sendiri selaku anggota masyarakat. Pengembangan yang utuh dapat dilihat dari segi wujud dimensi dan arahnya. Pengembangan dimensi hakikat manusia yang utuh diartikan sebgaipembinaan terpadu terhadapdimensi hakikat manusia sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara selaras.
Pengembangan dimensi hakikat manusia akan terjadi di dalam proses pengembangan jika ada unsure dimensi hakikat manusia yang terabaikan, pengembangan yang tidak utuh berakibat terbentuknya kepribadian yang pincang dan tidak mantab dan disebut pengembangan yang patologis.
Ulasan:
            Sifat hakikat manusia merupakan karekteristiknya secara prinsipil membedakannya dengan makhluk hidup lainnya. Dimensi-dimensi kepribadian manusia memiliki sifat yang unik, potensial dan dinamis, yang terbagi menjadi 4 macam dimensi, yaitu: keindividualan, kesosialan, kesusilaan, dan keberagaman. Pengembangan dimensi manusia dapat dilakukan dengan dua pendekatan pengembangan yaitu pengembangan yang utuh dan pengembangan yang tidak utuh.
Komentar:
            Pembeda manusia dengan hewan terdapat pada kemampuan terpadu pada manusia. Kemampuan terpadu itu merupakan kakteristik manusia itu sendiri. Karakteristik itu pun membuat mudah untuk menuntun dan mendidik seorang manusia sehingga dapat memunculkan individu-individu yang bermartabat, berbudi pekerti luhur, dan berpengetahuan luas.
Jika berdasar pada paparan-paparan diatas, seorang pendidik manusia mendidik manusia harusnya mudah untuk membina manusia dan mengayomi ke arah yang lebih baik. Namun pada kenyataannya sekarang, kesamaan jenis makhluk hidup ini tak menjadi jaminan kesatuan presepsi atau dapat diartikan satu tujuan yang baik pula. Tindakan untuk menyatukan presepsi itu dapat dilakukan dengan langkah lebih mengerti dimensi pengembangan manusia.




Daftar Rujukan

 Tirtarahardja, Umar & Sulo, La. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.


Jika blog ini menjadi salah satu referensi Anda, jangan lupa menyertakan blog ini dalam daftar rujukan Anda untuk menghargai karya orang lain dan pastinya menghindari plagiarisme. Terima kasih.

CARA GRADING ATAU KATROL NILAI DENGAN SPREADSHEET ATAU EXEL

  Di atas adalah preview dokumen spreadsheet untuk grading atau katrol nilai dengan objektif. singkat saja, pasti yang cari sedang bingung k...